Titik Embun
Titik Embun
Lantunan berat suara Muazin sayup terdengar mengumandangkan azan pada suatu subuh, syahdu. Barangkali lantunan suara merdunya yang membangunkan seorang koster gereja. Bergegas pula ia menyiapkan rupa-rupa perangkat misa ibadah pagi.
Pada tepi jalan antara masjid dan gereja, selembar daun yang melekat pada batang dan akar yang bergantung pada bumi menggeliat ditiup angin yang menghalau kabut. Saat geliatnya, terbentuk setitik embun di atasnya. Manusia tak dapat menghitung waktunya. Terlalu cepat? Terlalu lambat?
Sapa embun pada daun, "Selamat pagi."
Daun hijau berhenti menggeliat dan berbisik, "Embun?"
Titik embun bergoyang kecil di atas geliat daun yang terhenti tiba-tiba. "Iya," katanya riang.
Daun hijau menggeliat lagi. "Oh," jawabnya singkat.
Titik embun menggelitiknya, "Ah, kenapa kau begitu pendiam."
Daun hijau berhenti bergoyang, tak ada semilir angin yang membantunya. Ia memilih diam.
"Tidakkah kau ingin berkenalan dan berbicara denganku? Aku bisa ceritakan tentang sungai dan langit dan awan untukmu. Cepatlah, karena kalau matahari sudah terbit dan menjadi panas aku harus segera pergi."
Daun hijau tertiup angin semilir, mereka terguncang sesaat. Ia mendesah, "Karena itulah aku tak ingin berkenalan dan berbicara denganmu karena kamu akan segera pergi saat matahari mulai beranjak tinggi dan memanas."
Titik embun terkikik.
"Apakah kau sedih?"
"Ya."
"Apakah kau marah?"
"Ya, kadang-kadang."
"Apakah kau kecewa?"
"Sangat."
"Tapi apakah kau gembira saat berkenalan dan bercengkerama dengan titik-titik embun?"
"Ah ... Ya ...."
Titik embun tertawa kecil.
"Ya, aku tahu."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Beberapa kali aku melihatmu."
Angin yang cukup kencang tiba-tiba bertiup menghalau sisa kabut. Azan subuh sudah berakhir. Lonceng gereja sudah berdentang enam kali.
"Bagaimana mungkin!"
"Ah, aku tak selalu menjadi titik air, saat pada pandanganmu aku lenyap, aku mengalir bersama angin. Aku tetap ada. Aku bisa melihatmu. Aku bisa menyentuhmu."
Daun hijau bergeming.
Titik embun bergeming.
Angin semilir kembali bertiup, kali ini daun hijau tertiup dan lembar daunnya memeluk titik embun.
Pada saat sang Muazin dan bapak koster berpapasan di tepi jalan selepas salat dan misa pagi, ketika matahari mulai meninggi dan cuaca menjadi panas, titik embun menguap dan lembar daun perlahan melepaskan pelukannya. Semilir angin serta merta menerpa daun hijau, ia bergoyang riang, menyambut sapa titik embun yang tak berwujud. Tepat di saat itu sang Muazin dan bapak koster saling melempar senyum dan menganggukan kepala.
--------
Sebuah catatan tentang perjumpaan dan perpisahan. Sebuah catatan tentang kehidupan dan kematian.
Lantunan berat suara Muazin sayup terdengar mengumandangkan azan pada suatu subuh, syahdu. Barangkali lantunan suara merdunya yang membangunkan seorang koster gereja. Bergegas pula ia menyiapkan rupa-rupa perangkat misa ibadah pagi.
Pada tepi jalan antara masjid dan gereja, selembar daun yang melekat pada batang dan akar yang bergantung pada bumi menggeliat ditiup angin yang menghalau kabut. Saat geliatnya, terbentuk setitik embun di atasnya. Manusia tak dapat menghitung waktunya. Terlalu cepat? Terlalu lambat?
Sapa embun pada daun, "Selamat pagi."
Daun hijau berhenti menggeliat dan berbisik, "Embun?"
Titik embun bergoyang kecil di atas geliat daun yang terhenti tiba-tiba. "Iya," katanya riang.
Daun hijau menggeliat lagi. "Oh," jawabnya singkat.
Titik embun menggelitiknya, "Ah, kenapa kau begitu pendiam."
Daun hijau berhenti bergoyang, tak ada semilir angin yang membantunya. Ia memilih diam.
"Tidakkah kau ingin berkenalan dan berbicara denganku? Aku bisa ceritakan tentang sungai dan langit dan awan untukmu. Cepatlah, karena kalau matahari sudah terbit dan menjadi panas aku harus segera pergi."
Daun hijau tertiup angin semilir, mereka terguncang sesaat. Ia mendesah, "Karena itulah aku tak ingin berkenalan dan berbicara denganmu karena kamu akan segera pergi saat matahari mulai beranjak tinggi dan memanas."
Titik embun terkikik.
"Apakah kau sedih?"
"Ya."
"Apakah kau marah?"
"Ya, kadang-kadang."
"Apakah kau kecewa?"
"Sangat."
"Tapi apakah kau gembira saat berkenalan dan bercengkerama dengan titik-titik embun?"
"Ah ... Ya ...."
Titik embun tertawa kecil.
"Ya, aku tahu."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Beberapa kali aku melihatmu."
Angin yang cukup kencang tiba-tiba bertiup menghalau sisa kabut. Azan subuh sudah berakhir. Lonceng gereja sudah berdentang enam kali.
"Bagaimana mungkin!"
"Ah, aku tak selalu menjadi titik air, saat pada pandanganmu aku lenyap, aku mengalir bersama angin. Aku tetap ada. Aku bisa melihatmu. Aku bisa menyentuhmu."
Daun hijau bergeming.
Titik embun bergeming.
Angin semilir kembali bertiup, kali ini daun hijau tertiup dan lembar daunnya memeluk titik embun.
Pada saat sang Muazin dan bapak koster berpapasan di tepi jalan selepas salat dan misa pagi, ketika matahari mulai meninggi dan cuaca menjadi panas, titik embun menguap dan lembar daun perlahan melepaskan pelukannya. Semilir angin serta merta menerpa daun hijau, ia bergoyang riang, menyambut sapa titik embun yang tak berwujud. Tepat di saat itu sang Muazin dan bapak koster saling melempar senyum dan menganggukan kepala.
--------
Sebuah catatan tentang perjumpaan dan perpisahan. Sebuah catatan tentang kehidupan dan kematian.
Sejuk ❄
ReplyDeleteMakasih :)
Delete