In Memoriam of dokter Kayanto Soedarsono

Di tepi ranjang itu tiba-tiba ada seseorang yang menggengam tanganku. Suara tangis seorang anak kecil yang entah sakit apa di ruang gawat darurat itu memekakkan telingaku. Aku membalas genggaman tangan itu. Mataku hanya bisa melihat bayang-bayang.

"Dokter?" Kataku. "Iya," katanya. Oh, benar ini seorang dokter. "Ini gimana?" Tanyaku. "Nanti dioperasi," katanya. "Bisa?" Tanyaku lagi. "Bisa, bisa, itu seperti bibir sumbing." Aku tetap belum bisa melihat wajahnya, aku hanya menggengam tangannya.
Aku terus bertanya, "Ini saya bisa mati, ya?"
"Bisa, bisa, 50 tahun lagi," katanya sambil tertawa kecil.

Dalam keadaan setengah sadar dan masih belum pulih dari amnesia retrograde saya membuat keputusan untuk tinggal di rumah sakit itu dan dioperasi oleh dokter itu.
"Ke Carolus saja, Mbak," kata seorang rekan kerja. "Nggak, Pak, saya mau di sini aja sama dokter yang ini (saya bahkan belum tahu siapa namanya). Mungkin sesungguhnya bukan saya pembuat keputusan itu. Mungkin takdir yang membuatnya.

You stood by my bed and held my hands back then almost ten years ago
You have saved my life, sticthed my broken face that I could stand up and faced my life with big smiles once again

How thankful I am that I was able to stand by your bed on your final days, whispering prayers in my heart

Lord, please save his soul for he has done good things despite of his shortcomings
May your soul rest in peace, now.
I will miss you...
Salam buat Papa saya, ya...

In memoriam of Dokter Kayanto who stood by my bed and held my hand. 19 November 1942 - 2 Februari 2017. RS Antam Medika, Jakarta Timur.
Our prayer will always be with him... Mbak Sita Anggraini n Diniari FJ Putri


Comments

Popular posts from this blog

Mamaku

Main Sekolah-sekolahan

Gorila yang Menggebuk Dadaku