Adalah suatu kebahagiaan tersendiri, bagi seorang ibu yang suka membaca kalau anak-anaknya juga suka baca.
Posting ini sederhana saja: Ndongengi adik. gambarnya sudah berbicara
Seperti diunggah di facebook tangal 5 Agustus 2014
Kata Mamaku, waktu beberapa orang dari kantor tempat aku pernah bekerja bahwa aku mengalami kecelakaan yang cukup serius di sebuah jalan tol di Jakarta, ia tidak bisa tidur. Ia berulang kali mengatur baju-bajuku dan baju-bajunya yang akan dibawa ke Karawang menjengukku keesokan harinya, sambil menelepon sepupuku. Itu terjadi pada tahun 2007. Lalu selama setahun kemudian aku dan Mamaku suka berjalan-jalan ke mall atau sekedar cari makan saat kami jenuh di rumah. Mamaku yang mendorong kursi rodaku. Hanya sekali aku melihat Mamaku meneteskan air mata saat Papaku dirawat di rumah sakit menjelang akhir hidupnya. Katanya, "Leukemia katanya." Setelah itu dia sibuk mencuci pakaian, sibuk merawat Papa yang terbaring di rumah sakit. Sibuk mencarikan Romo atau biarawan untuk mendoakannya. Sekaligus sibuk mencarikan obat untukku yang sakit maag saking stresnya. Papa yang waktu itu sudah kesulitan bicara suka mengacungkan jempolnya pada Mama. "Mama itu hebat,...
Eda sedang belajar menyemai tanaman yang disertai lembar pengamatan pertumbuhannya. Mama: Nah, ayo digambar dulu sekarang sudah gimana benih sawinya. . . Eda:(menggambar) . . Mama: Oke sip! Nah, sekarang menurutmu gimana keadaan sawinya hari ini? . . Eda: (dengan mantap) SEHAT! . . Mama: Heeehhhh wakakakakaka lha kok gampang men pengamatane
Sungguh terlambat aku mengenal karya-karya Pandir Kelana. Seandainya sejak zaman sekolah dulu aku sudah baca buku-buku Pandir Kelana, tentu pelajaran sejarah jadi jauh lebih asyik. . . Ini buku pertama yang kubaca. Tusuk Sanggul Pudak Wangi. H.B. Jassin memberi komentar di sampul belakang. "... Diceritakan dengan bahasa sastra dan imajinasi yang kuat, cerita ini amat mengasyikkan dan membantu orang menyelami sejarah tidak hanya sebagai catatan-catatan peristiwa yang kering gersang." . . Oh, sungguh bukan isapan jempol belaka komentar itu. Bukan sekedar abang-abang lambe biar buku laris dibeli. Buku bercerita tentang sejarah berdirinya Majapahit, tapi diceritakan dari sudut pandang Kebo Umbaran yang kelak bergelar Ki Bekel--pangkat yang cukup tinggi--kepala seorang juru pawekas. Orang yang bertugas menyampaikan pesan. Semacam wartawan mungkin di zaman modern. Ia bertugas mendokumentasikan dan memberitakan segala sesuatu yang terjadi di kerajaan. Dikisahkan, waktu Singasari ...
Comments
Post a Comment