Posts

Tentang Agama Ayah Saya

Selama lebih dari tiga perempat waktu hidupnya Ayah saya tidak beragama. Dia bersekolah di sekolah Katolik, dia tahu cara berdoa dan tata cara beribadah secara Katolik. Dia juga hidup di tengah budaya Tionghoa yang masih kental, maka tradisi sembayang di klenteng pun dia tahu. Ketika akhirnya dia menikah dengan Ibu saya, mereka menikah secara Katolik di gereja. Selama lebih dari tiga perempat waktu hidupnya Ayah saya tidak beragama. Pun setelah dia menikah di depan altar di gereja. Pada usia 40-an Ayah saya sangat tertarik dengan ajaran Islam. Dia punya satu Al-quran terjemahan. Dia paling suka membaca surat Annisa. Entah mengapa, saya tak tahu, karena saya belum pernah ikut membaca. Dia senang berdiskusi dengan rekan-rekan kerjanya di Puskesmas tentang Islam. Saya pun senang mendengarkan diskus-diskusi itu. Ada Bapak tua yang pintar bercerita. Beliau suka menceritakan kisah-kisah yang dikenal dalam Islam, sayangnya saya tak mampu lagi mengingatnya, waktu itu saya ...

Tuhan Apa Agama-Mu?

Seorang anak kecil bangun dari tidurnya di atas kasur serupa awan. Ia menoleh ke sana ke mari mencari Ibu Bapaknya. Sejenak sebelum butiran air matanya yang pertama menetes, serombongan kupu-kupu perak terbang menghampirinya. Pendar-pendar sayap kupu-kupu yang indah membuatnya urung menangis. Kupu-kupu perak terbang kian kemari. Anak kecil beranjak turun dari kasur awannya. Mengejar kupu-kupu. Jauh ia berlari sampai ke ujung cakrawala yang tak berbatas s ampai ia menubruk seseorang. Ya, sepertinya itu seseorang. Atau sesuatu.  Rasanya seperti dipeluk, "Selamat datang, Nak. Betapa aku merindukanmu." Ah, ini dia Bapakku. Ah, bukan, bukan ini terasa seperti ibuku, denyutnya terasa seperti helaan napas Ibuku ketika aku menyusu pada buah dadanya. Ia seperti memeluknya erat. "Ayo kita pulang," kataNya. Anak kecil itu terayun-ayun maju. Ah, maju atau naik, ya. Tak soal, ini asyik sekali seperti main ayunan dan perosotan. "Maaf, ya, Nak. Kau h...

Ini Bukan Tentang Agama

Orang cerdik pandai belajar, menelaah,menafsirkan, berlogika, mendiskusikan, memperdebatkan tentang Sang Pencipta. Sebagian menemukan kedamaian, sebagian menjadi panutan keimanan, sebagian menemukan kekecewaan, sebagian menemukan perselisihan, sebagian masih terus mencari, Orang yang daya pikirnya terbatas dengan sederhana menerima keyakinan, memupuk iman, dengan mudah menemukan kedamaian dan keselamata. Tuhan memang maha adil # pasmandipagi ada pikiran lewat... ditulis wae...

Profesi Tuhan

Anak-anak tumbuh dan berkembang jadi dewasa hanya untuk belajar menyadari bagaimana caranya jadi anak-anak Mau tau profesi Tuhan? Tuhan itu pasti Guru

Tips Bercerita "Duper Tikus Gemuk Bermata Jeli"

Image
Waktu menulis Duper "Tikus Gemuk Bermata Jeli" aku membayangkan anak-anak yang belum bisa baca dapat terlibat dalam cerita ketika didongengi. Ternyata, Indra Bayu, ilustrator buku ini berhasil mewujudkan bayanganku itu jadi kenyataan. Yey!  Hampir di setiap halaman, sementara didongengi, anak bisa asyik mencari Duper kecil yang "tersembunyi" di antara tokoh dan suasana cerita. Walhasil, bukan hanya Duper yang  bermata jeli, tapi semua anak yang membacanya bisa ikut berlatih menjadi anak yang bermata jeli! Jadi, ibu-ibu, bapak-bapak, guru-guru, para pengasuh atau siapa saja yang mau mendongengkan Duper "Tikus Gemuk Bermata Jeli" ingat ingat yaaa! Libatkan anak untuk mencari Duper. Bantu mereka untuk menjadi jeli! Have fun! Ayo cari Duper-nya! :) Well done, Indra Bayu! :) 

MamaLia

Randu: Mama, ikan paus itu nggak bertelur ya? Mama: Nggak. Ikan paus itu melahirkan, kayak orang. Randu: Kenapa kok nggak bertelur? Mama: Yaa, karena ikan paus itu termasuk mammalia. Randu: ( manggut-manggut ) Oooo, Mammalia, kayak Mama ini (sambil nunjuk-nunjuk saya) Mama: (bengong sebentar, terus sadar) Nyahahahaahaha bukannn bukannnnn... bukan kayak Mama iniiii wkwkwk.. kalo Mama namnya memang Lia jadi Mama Lia.. tapi ini jenis-jenis makhluk hidup.. ada mammalia, reptil.. dll.. bla bla bla Randu: ( senyam senyum )

Ransel, Sulur, dan Duri

Kupanggul ransel harapan Kudongakkan kepala sampai marah entah pongah Melangkah tergesa, memburu bahagia "Sial!" Umpatku kesal Bahagia tak terkejar Kuhempaskan saja ransel harapan di pinggir jalan "Berat!" Gerutuku Terengah berlari mengejar bahagia "Taik!" Teriakku Bahagia sekarang punya sayap Mendadak kakiku ditumbuhi sulur-sulur keputusasaan "Aaahhh!" Jeritku Belenggu sulur lebih kuat dari borgol berkancing Padanya tumbuh duri-duri kecemasan yang menusuk-nusuk seluruh badan jiwaku Aku meronta dengan daya penyangkalan yang paling kuat Belenggu sulur jadi makin erat Bahagia kian pekat tak terlihat Sampai hari ke empat ratus lima puluh aku memutuskan berhenti meronta membebaskan diri dari sulur dan duri "Cukup," bisikku lemah, "Ini akhir perjalananku mencari bahagia." Aku tertidur bersama sulur dan duri Makan bersama mereka Mandi bersama mereka Aku menyerah, biarlah badan jiwaku hidup bersama sulur d...